Yohana dan Mulyono, Kisah Sukses Pengentasan Buta Aksara

Sabtu, 29 Oktober 2011 (dibaca 4423 kali)

Di mana ada niat, di situ ada jalan. Kata-kata inilah kiranya yang memotivasi Yohana dan Mulyono dalam perjuangan mereka menghilangkan buta aksaranya.

Jakarta –- Berbagai kisah inspiratif mewarnai Program Pendidikan Keaksaraan untuk mengentaskan buta aksara di negeri ini. Dalam puncak acara Hari Aksara Internasional ke-46, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menggelar dialog keaksaraan untuk mendengarkan kisah mereka yang berhasil mengentaskan buta aksaranya.

Salah satunya kisah Yohana Genona, perempuan Papua, yang akhirnya mampu membaca dan menulis  pada usia 24 tahun. Yohana tinggal di Kabupaten Tolikara, Papua. Jarak dari Tolikara hingga Wamena cukup jauh, dan tidak ada kendaraan. Yohana tidak mengetahui berapa kilometer jarak tersebut. Ia hanya bisa mengukur dari segi waktu. “Dari Tolikara jalan kaki. Pukul 7 pagi berangkat, sampainya pukul 3 sore,” ujarnya.

Namun Yohana tidak patah semangat. Demi mengentaskan buta aksaranya, ia meninggalkan kampungnya menuju Wamena. “Dari situ (Wamena) naik pesawat ke Jayapura, Sentani. Selama tinggal di Sentani, saya masuk sekolah paket. Di sana diajarin membaca,” tutur Yohana saat berdialog dengan Mendikbud Mohammad Nuh, di Gedung D Kemdikbud, Jumat pagi, (21/10)..

Di Sentani, Yohana belajar di Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM) Budiharti. Ia mengaku senang bisa bersekolah dan belajar. Berkat itu, ia kini bisa membaca dan menulis, juga berhitung. Ilmu hitungnya pun digunakannya untuk berdagang. Yohana yang tiga bulan lalu ditinggal pergi suaminya menghadap Yang Maha Kuasa, sekarang juga mengisi hari-harinya dengan rajin membaca renungan harian dan Alkitab.

Satu lagi kisah sukses dari pengentasan buta aksara datang dari Mulyono, seorang pemuda asal Badui Luar yang berusia 17 tahun. Ayah Mulyono adalah seorang tutor. Dari ayahnya lah ia belajar membaca dan menulis sejak usia tiga tahun. Kemudian di usia sembilan tahun, Mulyono sudah bisa membaca, menulis,dan berhitung.

Keistimewaan orang Baduy Luar adalah mereka bisa terbuka menerima budaya positif yang datang dari luar Badui, berbeda dengan Badui Dalam. Kenyataan sosial inilah yang dimanfaatkan Mulyono untuk mengentaskan buta aksaranya. Bahkan sejak ia bisa membaca dan menulis, ia pun mengajarkan kemampuannya itu kepada adik-adiknya. Hal itu dilakukannya sebelum ia mengambil paket A. Sekarang Mulyono sedang menjalani paket A, dan sudah berjalan satu tahun.

“Perubahan apa yang dirasakan setelah bisa membaca dan menulis?” tanya Dewi Hughes, Duta Pendidikan untuk Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal (PAUDNI), saat memandu dialog dengan Mendikbud M. Nuh. Mulyono menjawab, perubahan yang paling ia rasakan adalah, ia bisa bepergian dengan bis atau kendaraan umum lainnya tanpa khawatir salah jurusan, karena ia sudah bisa membaca tulisan jurusan di kendaraan.

Usai mendengarkan kisah Yohana dan Mulyono, Menteri Nuh meminta semua yang hadir memberikan apresiasi kepada Yohana dan Mulyono dengan bertepuk tangan. Ia juga memberikan cinderamata berupa paket buku kepada keduanya. Menteri Nuh mengatakan, Yohana dan Mulyono adalah contoh dua warga negara yang memiliki keterbatasan geografis dan sosial-budaya, namun tidak menjadikannya sebagai halangan untuk mengentaskan buta aksara. “Tidak ada alasan untuk tidak belajar keaksaraan,” tegas Mendikbud M. Nuh.

Mendikbud juga mengatakan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan terus bergerak, bekerjasama dengan mitranya, seperti pemerintah daerah, taman bacaan, dan PKBM, untuk mengenalkan aksara, dan mencapai Indonesia yang bebas buta aksara. “Satu orang yang bebas buta aksara, bisa berdampak luar biasa untuk lingkungan sekitar,” katanya.


Sumber :http://www.kemdiknas.go.id
Apa isi sebuah makam kuno Suku Maya yang tertutup selama 1.500 tahun, akhirnya terkuak. Meski para peneliti tak bisa masuk ke dalamnya, dari celah ...
(4402 hits) Selengkapnya »

Para ahli menemukan cara menghidupkan kembali hewan yang telah lama punah dari muka Bumi ini. Kini, taman jurasic bukan lagi isapan jempol semata. ...
(4424 hits) Selengkapnya »

Kedutaan Besar Republik Indonesia di Bern, Swiss, membeberkan misteri Yayasan New7Wonders, penyelenggara tujuh keajaiban dunia yang di antaranya ...
(4430 hits) Selengkapnya »

Sudah sejak berabad-abad lamanya, alas kaki menjadi bagian penting dari kehidupan manusia. Bukan hanya sebagai pelindung kaki, namun juga gaya ...
(4429 hits) Selengkapnya »

Layar sentuh berbasis layar LCD sudah sering kita lihat dan temukan pada ponsel-ponsel layar sentuh, seperti iPhone, HTC, BlackBerry Torch, ...
(4420 hits) Selengkapnya »

Tim Basket SMP Negeri 1 Karanganyar dalam rangka Study Banding ke SMP Negeri 1 Bantul Gunung kidul Yogyakarta sempat mengadakan pertandingan ...
(4568 hits) Selengkapnya »

SMP Negeri 1 Karanganyar mengadakan Latihan Dasar Kepemimpinan yang diikuti oleh siswa-siswi yang termasuk dalam pengurus dan anggota ...
(4480 hits) Selengkapnya »

Kegiatan setelah KBM selesai SMP Negeri 1 Karanganyar Mengisi dengan kegiatan Pelatihan komputer untuk Guru dan Karyawan. Kegiatan ini dapat ...
(4525 hits) Selengkapnya »

Cheerleader SMP Negeri 1 Karanganyar mampu meraih prestasi di tingkat Propinsi Jawa Tengah. Hal ini dapat dibuktikan dengan menyabet Juara 2 ...
(4554 hits) Selengkapnya »

Daftar Kejuaraan yang diikuti SMP Negeri 1 Karanganyar baik ditingkat Propinsi maupun Nasional tahun 2009 antara lain : Muhammad ...
(4458 hits) Selengkapnya »

 
Optimized for 1024x768 resolution at:
           
©2012 All Rights Reserved.  •  Design by SMP Negeri 1 Karanganyar